sejarah kota lumajang,jember,medan,banyuwangi
Sejarah kota lumajang
Dalam sejarahnya, wilayah ini sangat berhubungan dengan
tokoh bernama Arya Wiraraja yang kemudian menjadi raja besar di lamajang Tigang
Juru. Menurut Babad Pararaton, nama kecilnya adalah Banyak Wide, yang secara
etimologis yaitu, "Banyak" adalah biasanya adalah nama yang disandang
kaum Brahmana, sedangkan "Wide" yang berarti "Widya" yang
berarti pengetahuan. jadi nama banyak wide sendiri berarti brahmana yang punya
banyak pengatahuan atau cerdik. Hal ini kemudian sesuai dengan perjalanan
karirnya kemudian. Tentang kelahiran Banyak wide, Babad Pararaton menyebutkan,
beberapa keterangan yang peting. "Hana ta wongira, babatanganira buyuting
Nangka, aran Banyak Wide, sinungan pasenggahan Arya Wiraraja, arupa tan kandel
denira, dinohaken, kinon Adipati ing Songenep, anger ing Madura wetan",
yang artinya: "Ada seorang hambanya (Kertanegara) merupakan keturunan
tetua di Nangka bernama Banyak Wide yang kemudian bergelar Arya Wiraraja dan
dijauhkan menjadi adipati Sumenep, Madura wetan". Dari keterangan ini,
kita dapat menilai bahwa ia dilahirkan di desa Nangka, namun daerah mana kita
belum mengetahui dengan jelas. Ada 3 versi tentang kelahiran Arya Wiraraja yang
kita kenal. Pertama, versi dari penulis Sumenep bahwa ia dilahirkan di desa
Karang Nangkan Kecamatan Ruberu Kabupaten sumenep. Kedua, versi tradisional
Bali dimana menurut Babad Manik Angkeran, ia dilahirkan di Desa Besakih
Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali. Ketiga, menurut Mansur hidayat,
seoarang penulis sejarah Luamajang bahwa ia dilahirkan di dusun Nangkaan, Desa
Ranu Pakis, Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang. Hal ini berdasarkan analisanya
dimana Pararaton tentang pemindahan Arya Wiraraja ke Sumenep dalam rangka
"dinohken" yang berarti "dijauhkan", sehingga ia dimungkin bukan
berasal dari Madura. Nah, kelahiran Arya Wiraraja dimungiinkan di wilayah
Lumajang karena pemindahan kerajaan dari sumenep ke Lamajang pada tahun
1292-1294 Masehi dimungkinkan sebagai seoarang politisi ulung, ia sudah
mengenal betul daerah Lamajang. Demikian pun di sekitar Dusun Nangkaan ini
terdapat sebuah situs besar yang pernah di gali tim Balai Arkeologi Yogyakarta
pada tahun 2007 dimana situs ini dimungkinkan adalah pemukiman dengan komplek
peribadatannya. Tentang kelahirannya tokoh ini diperkirakan lahir pada tahun
1232 Masehi karena dalam babad Pararaton menyatakan ia ketika mterjadi ekpedisi
Pamalayu, ia berusia sekitar 43 tahun dan menjadi Adipati Sumenep di usia 37
tahun. Dalam perjalanan politik selanjutnya, nama Banyak wide atau arya wiraraja
lebih mencuat dalam sejarah politik di kerajaan Singhasari
Sejarah kota
banyuwangi
Konon, dahulu kala wilayah ujung
timur Pulau Jawa yang alamnya begitu indah ini dipimpin oleh seorang raja yang
bernama Prabu Sulahkromo. Dalam menjalankan pemerintahannya ia dibantu oleh
seorang Patih yang gagah berani, arif, tampan bernama Patih Sidopekso. Istri
Patih Sidopekso yang bernama Sri Tanjung sangatlah elok parasnya, halus budi
bahasanya sehingga membuat sang Raja tergila- gila padanya. Agar tercapai
hasrat sang raja untuk membujuk dan merayu Sri Tanjung maka muncullah akal
liciknya dengan memerintah Patih Sidopekso untuk menjalankan tugas yang tidak
mungkin bisa dicapai oleh manusia biasa. Maka dengan tegas dan gagah berani,
tanpa curiga, sang Patih berangkat untuk menjalankan titah Sang Raja.
Sepeninggal Sang Patih Sidopekso, sikap tak senonoh Prabu Sulahkromo dengan
merayu dan memfitnah Sri Tanjung dengan segala tipu daya dilakukanya. Namun
cinta Sang Raja tidak kesampaian dan Sri Tanjung tetap teguh pendiriannya,
sebagai istri yang selalu berdoa untuk suaminya. Berang dan panas membara hati
Sang Raja ketika cintanya ditolak oleh Sri Tanjung.
Ketika Patih Sidopekso kembali dari
misi tugasnya, ia langsung menghadap Sang Raja. Akal busuk Sang Raja muncul,
memfitnah Patih Sidopekso dengan menyampaikan bahwa sepeninggal Sang Patih pada
saat menjalankan titah raja meninggalkan istana, Sri Tanjung mendatangi dan
merayu serta bertindak serong dengan Sang Raja.
Tanpa berfikir panjang, Patih
Sidopekso langsung menemui Sri Tanjung dengan penuh kemarahan dan tuduhan yang
tidak beralasan.
Pengakuan Sri Tanjung yang lugu dan
jujur membuat hati Patih Sidopekso semakin panas menahan amarah dan bahkan Sang
Patih dengan berangnya mengancam akan membunuh istri setianya itu. Diseretlah
Sri Tanjung ke tepi sungai yang keruh dan kumuh. Namun sebelum Patih Sidopekso
membunuh Sri Tanjung, ada permintaan terakhir dari Sri Tanjung kepada suaminya,
sebagai bukti kejujuran, kesucian dan kesetiannya ia rela dibunuh dan agar
jasadnya diceburkan ke dalam sungai keruh itu, apabila darahnya membuat air
sungai berbau busuk maka dirinya telah berbuat serong, tapi jika air sungai
berbau harum maka ia tidak bersalah.
Patih Sidopekso tidak lagi mampu
menahan diri, segera menikamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Darah memercik
dari tubuh Sri Tanjung dan mati seketika. Mayat Sri Tanjung segera diceburkan
ke sungai dan sungai yang keruh itu berangsur-angsur menjadi jernih seperti
kaca serta menyebarkan bau harum, bau wangi. Patih Sidopekso terhuyung-huyung,
jatuh dan ia jadi linglung, tanpa ia sadari, ia menjerit
"Banyu..... ... wangi............... . Banyu wangi ...
.." Banyuwangi terlahir dari bukti cinta istri pada
suaminya.
Sejarah
kota medan
Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah di antara kedua sungai tersebut.
Secara keseluruhan jenis tanah di wilayah Deli terdiri dari tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah. Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh penelitian Vriens tahun 1910 bahwa di samping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat inilah pada waktu penjajahan Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu (sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas tinggi dan salah satu pabrik batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei.
Mengenai curah hujan di Tanah Deli digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama dan Maksima Tambahan. Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d bulan Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September. Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.
Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba dan di sana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya. Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.
Pada awal perkembangannya merupakan sebuah kampung kecil bernama "Medan Putri". Perkembangan Kampung "Medan Putri" tidak terlepas dari posisinya yang strategis karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura, tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Kedua sungai tersebut pada zaman dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, sehingga dengan demikian Kampung "Medan Putri" yang merupakan cikal bakal Kota Medan, cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.
Semakin lama semakin banyak orang berdatangan ke kampung ini dan isteri Guru Patimpus yang mendirikan kampung Medan melahirkan anaknya yang pertama seorang laki-laki dan dinamai si Kolok. Mata pencarian orang di Kampung Medan yang mereka namai dengan si Sepuluh dua Kuta adalah bertani menanam lada. Tidak lama kemudian lahirlah anak kedua Guru Patimpus dan anak inipun laki-laki dinamai si Kecik.
Pada zamannya Guru Patimpus merupakan tergolong orang yang berfikiran maju. Hal ini terbukti dengan menyuruh anaknya berguru (menuntut ilmu) membaca Al-Qur'an kepada Datuk Kota Bangun dan kemudian memperdalam tentang agama Islam ke Aceh.
Keterangan yang menguatkan bahwa adanya Kampung Medan ini adalah keterangan H. Muhammad Said yang mengutip melalui buku Deli: In Woord en Beeld ditulis oleh N. ten Cate. Keterangan tersebut mengatakan bahwa dahulu kala Kampung Medan ini merupakan Benteng dan sisanya masih ada terdiri dari dinding dua lapis berbentuk bundaran yang terdapat dipertemuan antara dua sungai yakni Sungai Deli dan sungai Babura. Rumah Administrateur terletak di seberang sungai dari kampung Medan. Kalau kita lihat bahwa letak dari Kampung Medan ini adalah di Wisma Benteng sekarang dan rumah Administrateur tersebut adalah kantor PTP IX Tembakau Deli yang sekarang ini
Sang putri bersama beberapa pengawal kerajaan lari jauh mencari tempat yang aman. Tanpa mengetahui jika ada keluarga kerajaan yang selamat.Kawanan bajak laut tersebut berpesta atas kemenangan itu. Tampuk kekuasaan kerajaan diambil oleh pimpinan bajak laut . Sementara itu, pengawal kerajaan yang mengawal Putri Jembarsari tiba di tempat yang aman. Di tempat persembunyian tersebut,sang putri diajarkan berbagai ilmu beladiri. Dengan kecerdasan yang dimiliki sang putri, Putri Jembarsari dapat dengan mudah menerima berbagai ilmu tsb. Sekarang, Putri Jembarsari telah tumbuh menjadi gadis belia dan juga seorang pendekar.Suatu ketika, Putri Jembarsari memerintahkan pasukannya untuk membuka hutan belantara menjadi suatu perkampungan yang aman.
Sehingga banyak orang dari luar yang berdatangan, dan menjadi warga di daerah tersebut. Singkat cerita, daerah tersebut menjadi sebuah kerajaan kecil dan Putri Jembarsari yang menjadi ratunya. Mari kita kembali lagi untuk menengok kerajaan sebelumnya, yang telah diambil alih oleh bajak laut. Dikarenakan raja bajak laut yang tidak cakap dalam mengurusi kerajaan serta sikapnya yang sewenang-wenang. Menyebabkan terjadinya pemberontakan dimana-mana. Hingga akhirnya raja bajak laut tewas. Rakyat di kerajaan tsb lalu mencari Putri Jembarsari supaya bisa meneruskan tahta kerajaan ayahnya dulu yang terkenal sangat arif dan bijaksana. Mempertimbangkan usul dari sang penasihat, Putri Jembarsari setuju untuk menggabungkan 2 kerajaan tersebut. akhirnya kerajaan yang dipimpin oleh Putri Jembarsari semakin luas. Putri Jembarsari memerintah seperti ayahnya dulu, dengan arif dan bijaksana. Namun, ada yang iri dengan kesuksesan sang Putri. Saat melakukan kunjungan keluar kota, Putri Jembarsari diserang. Putri Jembarsari pun gugur. Untuk mengenang jasa Sang putri, kerajaan tersebut diberi nama "Kerajaan Jembarsari".Seiring waktu, nama Jembar
















