Perlombaan “NuPho” 2017
Namaku adalah Fakhru Widyan Firdaus, kawanku di sekolah
sering memanggilku Widyan, entah apa yang mereka pikirkan memanggilku dengan
nama tengahku. Aku masih di bangku Sekolah Menengah Pertama dan bersekolah di
SMP Negeri 1 Yosowilangun. Seketika aku masih sekolah, saat itu masuk waktu jam
istirahat aku keliling sekolah, dan melewati papan pengumuman (mading). Di
mading tersebut aku melihat sebuah brosur yang isinya tentang olimpiade fisika
yang akan di adakan pada tanggal 24 September 2017 dan yang mengadakan
olimpiade tersebut berasal dari Universitas Negeri Malang (dahulu disebut IKIP
Malang), disitulah aku ada keinginan untuk mengikuti olimpiade tersebut.
Pada hari selanjutnya, setelah aku meilihat brosur
tersebut aku masih berpikir bagaimana cara daftar ke olimpiade tersebut,
mencari teman setim agar memenuhi persyaratannya. Setelah bertanya – tanya
kepada panitia yang menyelenggarakan olimpiade tersebut, aku pun selanjutnya
meminta izin kepada orang tuaku agar di perbolehkan dan mendapat restu untuk
mengikuti olimpiade fisika tersebut.
Setelah meminta restu dan izin kepada orang tuaku, aku
mencari teman setim agar memenuhi persyaratan yang ada, setelah beberapa hari
mencari – cari teman untuk setim ku, dan akhirnya pun aku menemukan teman
setimku, untuk memenuhi persyaratan olimpiade fisika yang akan aku ikuti walau
dia masih kelas 8 SMP dan aku kelas 9 SMP, tetapi hal itu tidak aku pikirkan
yang terpenting mendapatkan pengalaman baru itu.
Di hari berikutnya setelah aku pun meminta kepada guru
yang mengajar IPA untuk menjadi pendamping saat mengikuti olimpiade tersebut,
dan guru pengajar IPA ku waktu itu pun mau menjadi pendamping di babak
penyisihan dan sayang, tidak bisa menjadi pendamping apabila team aku lolos ke
babak perempat final itu. Tetapi menurutku tidak apa – apa untuk masalah
tersebut sudah ada solusinya menurutku sendiri.
Setelah mendapat pendamping, aku berpesan kepada
pendampingku untuk mengajari materi – materi olimpiade itu seperti apa dan
bagaimana cara – cara mengerjakan dengan baik dan benar. Selanjutnya pada saat
babak penyisihan akan di mulai pada tanggal 24 September 2017, pada pagi hari
sekitar pukul 09.00 WIB timku, beserta guru pendamping ku berangkat ke tempat
olimpiade itu di SMA Negeri 2 Lumajang (yang menjadi rayon Kota Lumajang). Aku
pun berdoa dan terus berdoa saat ada di dalam perjalanan, agar diberi kemudahan
dalam mengerjakan soal – soal yang ada itu.
Sesampai di tempat olimpiade itu, aku pun meminta doa
kepada pendampingku agar menang dan lolos ke babak perempat final. Aku pun
masuk ke dalam kelas yang sudah di siapkan oleh pihak panitia, aku dan teman se
timku mengerjakan soal – soal itu, pena ini menari – nari di atas kertas
hitunganku. Setelah selesai mengerjakan soal – soal tersebut, kami pun langsung
di beri sertifikat oleh panitia penyelenggara olimpiade.
Setelah menunggu hasil selama 6 hari kemuadian, ternyata
kami yang mengikuti olimpiade fisika tersebut lolos ke babak perempat final.
Tim kami pun bahagia bisa masuk ke babak perempat final, pada H – 2 sebelum
pelaksanaan babak perempat final yang akan di adakan di Universitas Negeri
Malang, aku kebingungan untuk mencari supir karena orang tua ku tidak bisa menyetir
mobil. Dan pada H – 1, aku pun mendapatkan supir yang akan mengantarkan ke kota
Malang untuk mengikuti babak perempat final yang akan di adakan pada tanggal 07
Oktober 2017 yang bertempat di Universitas Negeri Malang.
Pada tanggal 06 Oktober yaitu H – 1 menjelang babak
perempat final, kami beserta orang tua dariku dan supir akan berangkat ke Kota
Malang setelah sholat ashar, dalam perjalanan kakakku sudah mencarikan homestay
yang akan kami inap untuk semalam. Selama 5 jam perjalanan, kami berhenti di
tempat makan yang berada di Kota Probolinggo untuk makan sore terlebih dahulu. Sesampai
sampai di Kota Malang kami pun langsung menuju ke homestay yang sudah di
pesankan oleh kakakku. Sesampai di homestay kami pun istirahat semalaman.
Keesokan harinya, aku, ayahku, dan teman se timku mencari
warteg yang dekat dengan homestay untuk sarapan pagi. Sesudah sarapan pagi kami
pun bersiap – siap untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat olimpiade fisika
babak perempat final yang bertempat di Universitas Negeri Malang di kampus
Fisika. Setiba sampai disana aku bertemu dengan kakakku, karena ia termasuk
dalam panitia olimpiade itu, aku dan teman setimku antri untuk mengisi
identitas yang sudah di sediakan oleh panitia. Selanjutnya, semua peserta masuk
ke ruang yang sudah di atur oleh panitia sebelumnya untuk mengikuti babak
perempat final itu. Semua peserta pun berdoa agar lolos ke babak puncak yaitu
ke babak final agar mendapatkan juara 1. Setelah kami mengerjakan soal – soal
tersebut, selama kurang lebih 3 jam kami menunggu hasil apakah lolos ke babak
final. Ternyata, setelah kami menunggu hasilnya membuat kami kecewa karena
tidak lolos ke babak final. Teman se timku pun hampir sedih, dan aku
menenangkan dia dengan cara menasehati agar qanaah saja atas usaha yang sudah
kita keluarkan.
Setelah itu dia pun sadar atas apa yang aku nasihatkan,
dia pun langsung tenang, setelah semua selesai. Kami pun akan melanjutkan
perjalanan pulang ke Kota Lumajang, selama dalam perjalanan kurang lebih 5 jam.
Sesampai di Kota probolinggo lebih tepatnya, kami pun berhenti untuk membeli
oleh – oleh yang berupa buah mangga melewati gang sempit sampai mobil
kujalankan dengan pelan karena banyak sekali polisi tidur di jalan sempit itu.
Setelah selesai kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Kota Lumajang dengan
selamat. Semoga pengalaman ku ini bisa aku tambah lagi di masa aku duduk di
bangku sekolah menengah atas.